saya
aku
Entah apa lagi
Apakah engkau
Juga kamu
Bukan lagi kami
Dan barangkali kita
Mengapa sendiri
Atau menyendiri
Lebih memukau kelihatannya
aku tak tahu
Siapa saja
Dia
Tapi bukan mereka
aku tak tahu
aku tak mengerti
aku, kamu atau dia
yang seharusnya
Kami, kita, kalian dan mereka
Sebab aku tak tahu
mereka yang seperti apa..
mereka yang seperti Siapa?
Agustus 2014
Rabu, 08 Oktober 2014
SAJAK: Manusia Setengah Gila
Pandang mata hingga ke ufuk
Menyelam hingga palung terdalam
Melayang hingga gugus bintang
Yang tapi bahkan:
Tangan, kaki dan kepala
:Beku Linu mengerutu
Mulut, lidah dan Bibir
:Bisu Kelu
Hati, Ruh dan Nurani
:Mati
Bukankah tapi
Tangan, kaki dan kepala
:Harus riyuh bergelora
Mulut, lidah dan Bibir
:Harus basah berteriak hingga serak
Hati, Ruh dan Nurani
:Harus Sehat kuat tapi tidak jahat
Dan ketika berkaca
Yang dilihat Hanya:
"manusia setengah gila"
Purwokerto, 03 Juni 2014
Menyelam hingga palung terdalam
Melayang hingga gugus bintang
Yang tapi bahkan:
Tangan, kaki dan kepala
:Beku Linu mengerutu
Mulut, lidah dan Bibir
:Bisu Kelu
Hati, Ruh dan Nurani
:Mati
Bukankah tapi
Tangan, kaki dan kepala
:Harus riyuh bergelora
Mulut, lidah dan Bibir
:Harus basah berteriak hingga serak
Hati, Ruh dan Nurani
:Harus Sehat kuat tapi tidak jahat
Dan ketika berkaca
Yang dilihat Hanya:
"manusia setengah gila"
Purwokerto, 03 Juni 2014
Selasa, 07 Oktober 2014
SAJAK; Burungku yang Nakal
Berkicau dan mengacau
Burung lain yang menggalau
Engkau menceracau
Bagai bakul cincau
Bersama burung bangau
Tidakkah kau takut
Paruh Bengkokmu kalut
Seperti mercon hendak disulut
aku Sama sekali tak salut
Engkau risau dan galau
Ketika diam tanpa berkicau
Mengapa dan bagaimana engkau
Burung macam apa engkau?
Hingga engkau risau jika tak berkicau
Hati-Hati!!
Paruhmu berubah kacau
Purwokerto, April 2014
Burung lain yang menggalau
Engkau menceracau
Bagai bakul cincau
Bersama burung bangau
Tidakkah kau takut
Paruh Bengkokmu kalut
Seperti mercon hendak disulut
aku Sama sekali tak salut
Engkau risau dan galau
Ketika diam tanpa berkicau
Mengapa dan bagaimana engkau
Burung macam apa engkau?
Hingga engkau risau jika tak berkicau
Hati-Hati!!
Paruhmu berubah kacau
Purwokerto, April 2014
SAJAK: Entah Mengapa dan Bagaimana!!
Apa yg bisa aku lakukan?
Aku risau melihat engkau
Aku galau memimpin engkau
Ribuan kata dulu pernah terucap
Merdeka! Dg langkah yg berderap
Namun agaknya entah apa namanya
Atau ada yg memanggil mereka Celeng
Kusebut mereka kirik
Ingin kulempari mereka dg Taik
Aku bingung
Kata apa yg musti mereka sandang?
Mereka lupa pelajaran sejarah kelas 4 SD
Yg menyeritakn kegigihan pahlawan
Bung tomo, soekarno, jenderal soedirman, mbah hasyim asy'ari, mbah wahid hasyim, patimura, ahmad yani, mohamad hatta, dan sejuta umat yg rela ko3ban nyawa
Atau mereka tidak pernah mengikuti pelajaran sejarah?
Aku tak tahu,
Yaa aku teringat satu kata dari entah siapa
"GANTUNG SAYA DI MONAS, KALO SAYA KORUPSI"
siapa yang hendak menggantungnya sekarang?
Kalian yang musti menjawabnya..
Buah ngelamun, Purwokerto Maret 2014
Aku risau melihat engkau
Aku galau memimpin engkau
Ribuan kata dulu pernah terucap
Merdeka! Dg langkah yg berderap
Namun agaknya entah apa namanya
Atau ada yg memanggil mereka Celeng
Kusebut mereka kirik
Ingin kulempari mereka dg Taik
Aku bingung
Kata apa yg musti mereka sandang?
Mereka lupa pelajaran sejarah kelas 4 SD
Yg menyeritakn kegigihan pahlawan
Bung tomo, soekarno, jenderal soedirman, mbah hasyim asy'ari, mbah wahid hasyim, patimura, ahmad yani, mohamad hatta, dan sejuta umat yg rela ko3ban nyawa
Atau mereka tidak pernah mengikuti pelajaran sejarah?
Aku tak tahu,
Yaa aku teringat satu kata dari entah siapa
"GANTUNG SAYA DI MONAS, KALO SAYA KORUPSI"
siapa yang hendak menggantungnya sekarang?
Kalian yang musti menjawabnya..
Buah ngelamun, Purwokerto Maret 2014
SAJAK: Upacara Bendera
Aku termangu sendiri,
Menatap kibaran bendera
yang warnanya tak pernah bisa kulupa,
Kutatap pula lenggokkan para pengibar merah putih yang aduhai
menutupi bokong yang penuh Borok,
tiba-tiba secara tiba-tiba,
yang semua orang bisa melihat dengan Hati,
bendera itu menangis sedih,
Ia tak kuat naik keujung tiang
yang dikerek oleh pengibar sejuta Borok
di bokong dan selangkangannya,
aku melihat sekelibat diatas awan
yang tak jauh dari ujung tiang bendera berwarna kelam itu,
seperti sedang menonton sinetron tersanjung,
yang tak pernah kehabisan cerita
hingga satu dasa warsa
disana kulihat,
banyak orang yg bisa makan
hanya dalam mimpinya saja,
ada org yg berjalan
memakai berbagai warna pakean
yang bangga mengambil Emas
di antara bendera pusaka,
dan ada pula seorang nenek tua
yg dihajar dengan palu dan pedang keadilan,
lalu aku menangis sedih,
tersungkur,
bendera itu pun semakin basah.
Sudah..
SAJAK: Lorong Kehidupan
Lalu ku telusuri lorong panjang yang masih jauh agaknya,
Ku bertemu dengan berbagai macam laku tindak lain orang,
Lantas aku bertanya pada mereka,
"Tahukah tuan ujung lorong ini menuju kemana dan berakhir dimana?"
Mereka yang jua bingung menjawab dengan nada pelan namun tak pasti,
"Ujung jalan ini menuju jalan keluar yg di sana bisa kau temu kisah baru dg manusia baru"
Lalu tiba2 dengkul kecil merintih ringkih
dan tiba-tiba aku tersungkur tapi tidak diatas tanah,
aku mengiba seorang diri,
Bertanya kembali pada seorang alim yang tampan,
"mungkinkah aku menemu ujung lorong ini seberkas cahaya dan keindahan?"
Lalu ia menjawab,
"tak ada yang tahu perihal itu, nak",
aku kembali bertanya,
"lorong macam apa ini Tuan"
ia kembali menjawab,
"kau bisa menyebutnya, 'Lorong Kehidupan'"..
2013
KAU BERBEDA TAPI KAU SAMA
kepada sahabat Ahmad Muna Fuadan
Kau berbeda tapi kau tetap / Kau tetap tapi kau juga berubah / Aku tak tahu kau berubah dari dan sejak mana / Dan aku juga tak mengerti jika kau tetap pada kesederhanaan // Tubuh yang kucal, postur yang mungkin sedikit tak layak dikata manusia / Memang tak mengapa kau kukatakan demikian / Dimataku seonggok dirimu bagai intan yang dibuang di antara pasir yang akan tetap selalu bersinar walau disekelilingmu buram dan gelap // Mungkin kau perlu di DOR! Agar pemikiran dan hatimu yang jernih itu dapat keluar / Dan juga kau harus dijemur, agar badanmu rela diterkam terik panas menanggung sedu orang yang bahkan membencimu // Itulah mata yang kupandangkan; seperti memandang padi. Ya padi. / Padi yang selalu bernyanyi, burung yang selalu bersiul, pohon yang selalu berdendang dan juga alam yang selalu berdzikir pada Tuhan // Kau bagai jalan lintas Sumatera : yang rela diinjak truk-truk / Walau harus merusak dirimu sendiri / Kau seperti matahari yang selalu memberikan harapan untuk melangkah menuju pagi / kau bagaikan rembulan yang selalu menciptakan keindahan dan keromantisan di kala keheningan malam // Namun kau bukan senja, yang hanya memberikan janji palsu dan menyegarkan mata sesaat kemudian kau pergi kembali // Manusia berpeluk Tuhan / Tuhan berpeluk manusia ; Ciptakan kerukunan-kehangatan / Niscaya kita akan sentosa
Palembang 23 September 2014
Muh. Budi Santoso
Kau berbeda tapi kau tetap / Kau tetap tapi kau juga berubah / Aku tak tahu kau berubah dari dan sejak mana / Dan aku juga tak mengerti jika kau tetap pada kesederhanaan // Tubuh yang kucal, postur yang mungkin sedikit tak layak dikata manusia / Memang tak mengapa kau kukatakan demikian / Dimataku seonggok dirimu bagai intan yang dibuang di antara pasir yang akan tetap selalu bersinar walau disekelilingmu buram dan gelap // Mungkin kau perlu di DOR! Agar pemikiran dan hatimu yang jernih itu dapat keluar / Dan juga kau harus dijemur, agar badanmu rela diterkam terik panas menanggung sedu orang yang bahkan membencimu // Itulah mata yang kupandangkan; seperti memandang padi. Ya padi. / Padi yang selalu bernyanyi, burung yang selalu bersiul, pohon yang selalu berdendang dan juga alam yang selalu berdzikir pada Tuhan // Kau bagai jalan lintas Sumatera : yang rela diinjak truk-truk / Walau harus merusak dirimu sendiri / Kau seperti matahari yang selalu memberikan harapan untuk melangkah menuju pagi / kau bagaikan rembulan yang selalu menciptakan keindahan dan keromantisan di kala keheningan malam // Namun kau bukan senja, yang hanya memberikan janji palsu dan menyegarkan mata sesaat kemudian kau pergi kembali // Manusia berpeluk Tuhan / Tuhan berpeluk manusia ; Ciptakan kerukunan-kehangatan / Niscaya kita akan sentosa
Palembang 23 September 2014
Muh. Budi Santoso
Senin, 06 Oktober 2014
ARTIKEL KOMPAS: LIBURAN
KOMPAS.com - Libur akhir tahun baru usai. Bolehlah kita saling berbagi cerita mengenai pengalaman liburan lalu. Pasti setiap orang punya pilihan sebagai tempat berlibur, baik di dalam maupun luar negeri.
egeri kita memiliki lebih dari 6.000 pulau, ratusan pantai, dan banyak gunung. Kondisi itu membuat Tanah Air menjadi tempat rekreasi yang punya pemandangan indah, baik di laut, gunung, bahkan sampai kawasan pedesaannya. Wisata kuliner dan aneka budayanya pun unik.
Banyak pilihan tujuan wisata di dalam negeri, sebut beberapa di antaranya Bandung, Yogyakarta, sampai Parapat, di tepi Danau Toba, Sumatera Utara.
Namun, ada pula sebagian dari kita yang lebih memilih berlibur ke luar negeri.
Ketika tujuan wisata di dalam negeri begitu melimpah, lalu apa yang mereka cari di luar negeri? Clara Margaretha Fitriani (19), yang baru menyelesaikan pendidikan tata rias artis di LaSalle College International, Jakarta, salah satu anak muda yang lebih memilih liburan ke luar negeri.
Namun, pilihannya itu bukan lantas berarti karena dia tak tahu tempat menarik di Tanah Air atau dia tak suka berlibur di dalam negeri. ”Aku pernah liburan sama keluarga keliling Jawa sampai Bali,” katanya.
Ia bahkan belajar membatik secara serius di Yogyakarta dan melihat berbagai museum. Retha, panggilannya, mengaku suka mempelajari hal-hal baru, seperti belajar membatik.
Akhir tahun lalu ia merayakan Natal di Vatikan bersama keluarga, lalu pergi ke beberapa negara di Eropa. Setelah lulus dari SMA Negeri 3 Jakarta, ia pernah belajar tentang tata rias artis di London, Inggris.
Pilihan Retha berlibur ke luar negeri berkait dengan hasratnya di dunia fashion. ”Aku tertarik fashion dan sejarah. Mungkin karena itu, aku jadi suka ke kota-kota di Eropa seperti London yang peran kerajaannya masih kuat. Kota-kota di Eropa umumnya punya banyak gedung bersejarah,” kata Retha yang suka melihat warga di berbagai negeri empat musim itu berjalan-jalan dengan memakai mantel dan sepatu bot.
Sementara buat Muna Fuadan, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, liburan merupakan salah satu kebutuhan primer bagi seseorang yang selama beberapa waktu ”terpasung” dengan rutinitas pekerjaan atau tugas, termasuk mahasiswa.
”Liburan itu ibarat charger. Setelah otak kita digunakan terus-menerus dalam kurun waktu lama, ia kehabisan baterai (jenuh),” ujar Muna.
Namun, mengingat ia masih mahasiswa, Muna pun tahu diri untuk memilih rekreasi sesuai dengan isi dompet dan anggaran yang terbatas.
”Bagi mereka yang punya dompet tebal, enggak apa-apa
berlibur ke luar negeri. Tetapi buat kita yang punya anggaran sedang-sedang, ya liburan di sini (dalam negeri) saja,” katanya.
Bahkan, kata Muna, dia tetap bisa menikmati meskipun hanya menghabiskan waktu liburan di rumah. ”Ini kesempatan saya membuat puisi dan menulis novel.”
Source: Kompas
egeri kita memiliki lebih dari 6.000 pulau, ratusan pantai, dan banyak gunung. Kondisi itu membuat Tanah Air menjadi tempat rekreasi yang punya pemandangan indah, baik di laut, gunung, bahkan sampai kawasan pedesaannya. Wisata kuliner dan aneka budayanya pun unik.
Banyak pilihan tujuan wisata di dalam negeri, sebut beberapa di antaranya Bandung, Yogyakarta, sampai Parapat, di tepi Danau Toba, Sumatera Utara.
Namun, ada pula sebagian dari kita yang lebih memilih berlibur ke luar negeri.
Ketika tujuan wisata di dalam negeri begitu melimpah, lalu apa yang mereka cari di luar negeri? Clara Margaretha Fitriani (19), yang baru menyelesaikan pendidikan tata rias artis di LaSalle College International, Jakarta, salah satu anak muda yang lebih memilih liburan ke luar negeri.
Namun, pilihannya itu bukan lantas berarti karena dia tak tahu tempat menarik di Tanah Air atau dia tak suka berlibur di dalam negeri. ”Aku pernah liburan sama keluarga keliling Jawa sampai Bali,” katanya.
Ia bahkan belajar membatik secara serius di Yogyakarta dan melihat berbagai museum. Retha, panggilannya, mengaku suka mempelajari hal-hal baru, seperti belajar membatik.
Akhir tahun lalu ia merayakan Natal di Vatikan bersama keluarga, lalu pergi ke beberapa negara di Eropa. Setelah lulus dari SMA Negeri 3 Jakarta, ia pernah belajar tentang tata rias artis di London, Inggris.
Pilihan Retha berlibur ke luar negeri berkait dengan hasratnya di dunia fashion. ”Aku tertarik fashion dan sejarah. Mungkin karena itu, aku jadi suka ke kota-kota di Eropa seperti London yang peran kerajaannya masih kuat. Kota-kota di Eropa umumnya punya banyak gedung bersejarah,” kata Retha yang suka melihat warga di berbagai negeri empat musim itu berjalan-jalan dengan memakai mantel dan sepatu bot.
Sementara buat Muna Fuadan, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, liburan merupakan salah satu kebutuhan primer bagi seseorang yang selama beberapa waktu ”terpasung” dengan rutinitas pekerjaan atau tugas, termasuk mahasiswa.
”Liburan itu ibarat charger. Setelah otak kita digunakan terus-menerus dalam kurun waktu lama, ia kehabisan baterai (jenuh),” ujar Muna.
Namun, mengingat ia masih mahasiswa, Muna pun tahu diri untuk memilih rekreasi sesuai dengan isi dompet dan anggaran yang terbatas.
”Bagi mereka yang punya dompet tebal, enggak apa-apa
berlibur ke luar negeri. Tetapi buat kita yang punya anggaran sedang-sedang, ya liburan di sini (dalam negeri) saja,” katanya.
Bahkan, kata Muna, dia tetap bisa menikmati meskipun hanya menghabiskan waktu liburan di rumah. ”Ini kesempatan saya membuat puisi dan menulis novel.”
Source: Kompas
SAJAK: Sanjung
aku tak bisa menyanjungMu
aku tak mau menyanjungMU
aku malu menyanjungMu Paduka
sanjunganku bisa jadi penghinaan untukMu
Tak ada kata kalimat
,frasa
,sajak
,syair
:yang bisa MenyanjungMu Paduka
Kau dzat maha tersanjung
Sungguh aku malu menyanjungMu Paduka..
Allah..
Ampuni Sanjunganku yg hina..
aku malu Paduka..
Maafkan sanjunganku untukMu Paduka..
aku Makhluq-Mu paduka..
yang tak tahu apa-apa
Maret 2014
aku tak mau menyanjungMU
aku malu menyanjungMu Paduka
sanjunganku bisa jadi penghinaan untukMu
Tak ada kata kalimat
,frasa
,sajak
,syair
:yang bisa MenyanjungMu Paduka
Kau dzat maha tersanjung
Sungguh aku malu menyanjungMu Paduka..
Allah..
Ampuni Sanjunganku yg hina..
aku malu Paduka..
Maafkan sanjunganku untukMu Paduka..
aku Makhluq-Mu paduka..
yang tak tahu apa-apa
Maret 2014
SAJAK: Seperti
Seperti Laut
tidak pernah meninggalkan Pantai
Seperti Bulan
tidak pernah meninggalkan Malam
Sepeti Matahari
tidak pernah meninggalkan Siang
Seperti Bintang
tidak pernah meninggalkan Langit
tidak pernah meninggalkan Pantai
Seperti Bulan
tidak pernah meninggalkan Malam
Sepeti Matahari
tidak pernah meninggalkan Siang
Seperti Bintang
tidak pernah meninggalkan Langit
Dan Aku....
Aku Tidak Pernah Meninggalkan Dirimu....
Kau adalah Belahan Jiwaku...
untuk kekasihku: Mifta
2014
Aku Tidak Pernah Meninggalkan Dirimu....
Kau adalah Belahan Jiwaku...
untuk kekasihku: Mifta
2014
SAJAK: Batu?
semalaman suntuk aku berdiri,
berbincang dengan gemintang yang terang,
di malam yang lain ku duduk,
bercakap dengan hujan sembari mengutuk,
dan dimalam ini aku merinding,
berkelahi dengan dingin,
lantas kutanya pada batu
:Merasakah gelap engkau?
Merasa basahkah engkau?
Merasa dinginkah engkau?
Ia
:batu yang kutanya itu,
tak menjawab apa-apa,
hanya diam berselimut bisu,
berhias sendu tak kenal kesah dan kesuh..
Lalu ku mengumpat
:Haruskah aku jadi Batu?
2014
berbincang dengan gemintang yang terang,
di malam yang lain ku duduk,
bercakap dengan hujan sembari mengutuk,
dan dimalam ini aku merinding,
berkelahi dengan dingin,
lantas kutanya pada batu
:Merasakah gelap engkau?
Merasa basahkah engkau?
Merasa dinginkah engkau?
Ia
:batu yang kutanya itu,
tak menjawab apa-apa,
hanya diam berselimut bisu,
berhias sendu tak kenal kesah dan kesuh..
Lalu ku mengumpat
:Haruskah aku jadi Batu?
2014
Minggu, 05 Oktober 2014
SAJAK: GuRu itu
Satu jam sebelum tengah malam,,
Pernahkah kau lihat,,
Bulan merenung kerna sendiri melewati gelap??
Pernahkah kau dengar,,
Matahari mrintih melewati terik??
Pernahkah kau sapa,,
Guru ngaji mengeluh saat kau tdk bisa apa-apa??
LIHAT!!
Guru ngaji kita yang mengajar itu,,
selalu rawuh,,
meski hujan turun terlalu deras!!
DENGAR!!
Guru ngaji kita yang rupawan itu,,
selalu merintih,,
Membisikkan do'a dan kekhawatiran,,
"Bagaimana murid2ku disana??
Bagaimana kabar mereka??
Tuhan, jadikan Ilmu mereka Ilmu yang Manfa'at,,
terima kasih Tuhan"
Rintihnya meski Ia rasa sakit di tubuhnya
Maka.. Aku kembali bertanya:
Alasan apa lagi Kau tak menghormatinya??
Kau yang musti menjawabnya!!
Purwokerto, Maret 2014
Pernahkah kau lihat,,
Bulan merenung kerna sendiri melewati gelap??
Pernahkah kau dengar,,
Matahari mrintih melewati terik??
Pernahkah kau sapa,,
Guru ngaji mengeluh saat kau tdk bisa apa-apa??
LIHAT!!
Guru ngaji kita yang mengajar itu,,
selalu rawuh,,
meski hujan turun terlalu deras!!
DENGAR!!
Guru ngaji kita yang rupawan itu,,
selalu merintih,,
Membisikkan do'a dan kekhawatiran,,
"Bagaimana murid2ku disana??
Bagaimana kabar mereka??
Tuhan, jadikan Ilmu mereka Ilmu yang Manfa'at,,
terima kasih Tuhan"
Rintihnya meski Ia rasa sakit di tubuhnya
Maka.. Aku kembali bertanya:
Alasan apa lagi Kau tak menghormatinya??
Kau yang musti menjawabnya!!
Purwokerto, Maret 2014
SAJAK: PONDOKku
FESBUK TWITER
kau ajarkan ku sikap
kau ajarkan ku berbicara
kau ajarkan ku berjalan
kau ajarkan ku segalanya
kau ajarkan ku sikap
kau ajarkan ku berbicara
kau ajarkan ku berjalan
kau ajarkan ku segalanya
oh,, pondokku
kau kenalkan aku dg DIA
kau dekatkan aku dg DIA
kau antarkan aku kepada NYA
oh... pondokku
kau bilang alif tak selamanya lurus
kau bilang hidup ini mu'rob
kau bilang akhiratlah yg mabniy
kau bilang bersiaplah untuk kembali
Purwokerto, Mei 2013
kau kenalkan aku dg DIA
kau dekatkan aku dg DIA
kau antarkan aku kepada NYA
oh... pondokku
kau bilang alif tak selamanya lurus
kau bilang hidup ini mu'rob
kau bilang akhiratlah yg mabniy
kau bilang bersiaplah untuk kembali
Purwokerto, Mei 2013
SAJAK: kepada siapa saja, atau apa saja
Fesbuk Twiter
Kepada Rembulan
aku Bertanya
tentang malam yang sepi
tanpa kerlip bintang
kepada Bintang
aku Bertanya
tentang malam kelam
tertutup kelabunya awan
kepada Matahari
aku Bertanya
tentang terik siang
tanpa hujan
kepada anggota Dewan
aku Bertanya
tentang kehampaan hidup
tentang hambarnya korsi
tanpa
:Korupsi
:Kolusi
:Nepotisme
:Gratifikasi
:Suap-suapan
dan ke-pada-nya
aku Bertanya
tentang pahitnya kamar
tanpa
:PERAWAN
Pemalang, 05 Oktober 2014
Kepada Rembulan
aku Bertanya
tentang malam yang sepi
tanpa kerlip bintang
kepada Bintang
aku Bertanya
tentang malam kelam
tertutup kelabunya awan
kepada Matahari
aku Bertanya
tentang terik siang
tanpa hujan
kepada anggota Dewan
aku Bertanya
tentang kehampaan hidup
tentang hambarnya korsi
tanpa
:Korupsi
:Kolusi
:Nepotisme
:Gratifikasi
:Suap-suapan
dan ke-pada-nya
aku Bertanya
tentang pahitnya kamar
tanpa
:PERAWAN
Pemalang, 05 Oktober 2014
CERPEN: TIANG BENDERA BARU
Matahari
mulai menampakkan sinarnya yang kokoh, daun-daun melambai tertiup angin pagi
yang sejuk, gemicir air menambah kealamian persawahan di Desa Tlagasana. Desa
yang tergolong pelosok dan terbelakang.
Tiga anak
manusia memulai hari mereka dengan memandang kawasan hijau di persawahan yang
masih asri. Mereka adalah Galang, Sulhan dan Wiwin. Tiga sahabat ini tinggal di
desa Tlagasana. Seperti biasa, mereka mengawali hari mereka dengan mandi,
sarapan dan berangkat sekolah. Tapi sebelum mereka berangkat, mereka berkumpul
dahulu di lapangan kecil tempat mereka biasa bermain. Disana mereka menghormat dulu
kepada sang merah putih yang berkibar di tengah lapangan. “Hormat grak, tegak
grak”, terdengar suara lantang dari Galang memimpin penghormatan mereka.
Kemudian
mereka melanjutkan langkah mereka ke sekolah. Mereka bersekolah di SMP Negeri 1
Tlagasana. Walaupun gedungnya kecil,banyak yang rusak tapi mereka tetap
bersemangat untuk mencari ilmu. Sepulang sekolah, setelah mengganti pakaian,
mereka bergegas ke lapangan tempat mereka bermain. Waktunya pak Narto
menceritakan cerita perjuangannya melawan penjajah. Karena beliau adalah salah
satu saksi kekejaman penjajah menindas Indonesia. Dialah satu-satunya veteran
di Desa Tlagasana. Beliau jugalah yang selalu mengibarkan bendera di lapangan,
karena rumah beliau memang dekat dengan lapangan. Anak-anak banyak yang suka
mendengar cerita dari beliau. Terlebih Galang, Sulhan dan Wiwin. Mereka selalu
antusias saat pak Narto bercerita.
Suatu
ketika, saat mereka bermain di lapangan, Wiwin memerhatikan tiang bendera yang
sudah karatan dan hampir roboh. “Kok tiang benderanya sudah bengkok, karatan,
kaya mau ambruk saja, kalau tiangnya sampai roboh sang merah putih tidak bisa
berkibar lagi dong” batin Wiwin. Dia punya niat untuk mengganti tiangnya dengan
yang baru. Tapi dia tidak punya cukup uang untuk membeli tiang bendera. Dia
mengatakan niatnya itu kepada dua sahabatnya. “Temen-temen, tiang bendera di
lapangan kan sudah rusak dan hampir roboh. Gimana kalau kita ganti dengan yang
baru?” ujar Wiwin. “Boleh juga tuh, tapi mau beli pake apa?kita kan gak punya
duit” tambah Sulhan. “gimana kalau ambil tabungan kita? Kalian pada punya
tabungan kan?” seru Galang. “Kalau aku sih punya, tapi Cuma sedikit. Gak tau
kalau si sulhan. Kamu punya tabungan gak?” kata Wiwin. “Punya donk!” kata
sulhan. “ya sudah kalau begitu, nanti sore kita kumpul di rumahku sambil bawa
uang ya!” kata galang. “Oke” ujar Wiwin dan Sulhan bersamaan.
Mereka
berniat mengganti tiangnya karena mereka sadar, kalau tiang itu roboh dimana
lagi bendera merah putih bisa berkibar. Mereka juga tidak bisa hormat lagi dengan
sang merah putih. Mereka memang mempunyai rasa cinta tanah air yang tinggi.
Sore harinya
mereka berkumpul di rumah Galang sambil membawa tabungan mereka. “Kalian sudah
bawa uangnya?” tanya Galang. “Sudah dong tapi Cuma sedikit” ujar Sulhan. “Iya
aku juga sudah bawa” tambah Wiwin. “ayo dikumpulin!” Kata Galang. Setelah uang
mereka dikumpulkan dan dihitung ternyata masih kurang. “Aduh masih kurang nih,
gimana ya buat nutupi kekurangannya?” geram Galang.
Mereka masih
bingung memikirkan kekurangannya, hingga disuatu sore, saat mereka jalan-jalan.
Tidak sengaja Sulhan membaca brosur bungkus gorengannya saat dia selesai makan
gorengan. “Lihat nih! Ada berita menarik. Akan diadakan lomba balap sepeda
dan…” ujar Sulhan. “Dan apa?” tanya Wiwin penasaran. “Hadiahnya uang dan piala”
tambah Sulhan. “Terus apa hubunganya sama kita?” tanya Galang. “kalau kita ikut
dan menang, kita bisa gunakan uangnya untuk membeli tiang bendera” jelas
Sulhan. “iya juga ya, kadang-kadang kau pinter juga” ejek Wiwin. “bukan
kadang-kadang lagi tapi sering” Sulhan tidak mau kalah. “sering bego kan?”
tambah Galang. Semuapun tertawa bersama.
Mereka
memutuskan Galang yang akan ikut lomba balap sepeda tersebut. “Lang, kamu siap
kan buat ikut lomba ini?” tanya Wiwin. “Tentu saja” jawab Galang. “Aku kan
sudah biasa memanjat gunung dengan sepedaku”. Sementara itu pak Narto sang
veteran jatuh sakit. Dia menderita demam yang tinggi. Galang,Wiwin dan Sulhan
tidak tahu karena sibuk menghias sepeda Galang untuk persiapan balap sepeda.
Akhirnya
tibalah hari pertama babak penyisihan balap sepeda. Galang menjadi peserta
nomor 23. dia berhadapan dengan banyak anak yang lebih besar. Tapi dia tak
menyerah. Karena dia selalu ingat kata pak Narto, bahwa perjuangan keras bisa
membuat hasil yang bagus. Dia meniru kegigihan pak Narto melawan penjajah.
Akhirnya dia lolos ke putaran final.
Setelah
mereka pulang mereka mendengar bahwa pak Narto sedang sakit. Mereka bergegas ke
rumah pak Narto. Saat mereka datang, pak Narto sedang terbaring lemah di tempat
tidurnya. Beliau pun berpesan kepada tiga bocah tersebut. “Ingat anak-anak!
Jangan pernah menyerah sebelum berjuang, jangan sia-siakan pengorbanan orang
lain untuk kalian. Kalian pasti akan mengerti bagaimana rasanya berkorban untuk
orang lain”. Setelah berpesan kepada anak-anak pak Narto tersenyum dan hormat
sambil berbaring. Dia memejamkan matanya dan menghela nafas dalm-dalam dan
akhirnya pak narto meninggal dalam keadaan hormat. Anak-anak menangis
histeris.”Pak Narto jangan tinggalin kami! Siapa lagi yang akan mengibarkan
sang merah putih kalau bapak pergi?” teriak Galang sambil menggoncangkan badan
pak Narto yang terpujur kaku.
Sepeninggal
pak Narto Galang menjadi anak yang pendiam dan jarang keluar rumah. Mungkin
dari anak-anak lain Galang lah yang merasa paling kehilangan. Karena dia
menganggap pak Narto bapaknya sendiri. Karena bapak Galang sudah meninggal
sejak dia kecil, dan pak Narto lah yang sering memberi nasihat kepadanya.
Setelah itu Galang berniat untuk mengundurkan diri dari lomba balap sepeda.
Suatu pagi
di rumah Galang. Dua sahabatnya datang. “Lang kamu gak siap-siap buat besok?”
tanya Wiwin. “Siap-siap buat apa?” ujar Galang. “Ya buat lomba balap sepeda
besok. Kamu gak latihan?” tambah Sulhan. “Oh iya aku belum bilang sama kalian
ya. Aku mau mengudurkan diri saja. Aku sudah gak minat lagi” Jelas Galang.
“Loh, kenapa jadi kaya gini? Bukannya kamu yang paling bersemangat untuk
memenangkan hadiah ini untuk membeli tiang bendera baru?” tukas Wiwin. “Memang,
tapi sekarang sudah berubah, orang yang membuatku semangat sekarang sudah tidak
ada” ujar Galang. ”Kami kecewa sama kamu lang, apa kau tidak ingat pesan pak
Narto sebelum beliau meninggal? Pasti beliau juga kecewa melihat sikapmu yang
mudah nyerah gini. Apa kau tidak malu? Kami benar-benar kecewa sama kamu lang!”
bentak Wiwin. Sulhan dan Wiwin langsung pergi dari rumah Galang. Setelah itu,
Galang terus memikirkan perkataan Wiwin.
Keesokan
harinya, saat putaran final hampir dimulai, Galang tidak juga hadir, sampai
perlombaan dimulai Galang belum juga datang. Wiwin dan Sulhan mulai harap-harap
cemas, tapi dari kejauhan Galang muncul dengan sepedanya. Setelah bersiap di
garis start, galang memandang wajah sahabat-sahabatnya. “Jangan menyerah
Galang! Tetap semangat!” teriak Wiwin. Galang mengangguk. Dan perlombaan pun di
mulai. Awalnya Galang berada di urutan akhir, tapi dia mengayuh sepedanya
semakin cepat, keringatnya mengalir di wajahnya. Tiba-tiba, dari belakang ada
salah satu peserta yang mendorongnya hingga terjatuh. Galang bangun lagi dan
dia tidak menyerah. Dia selalu mengingat pesan dari teman-temanya dan juga
pesan dari seng veteran, pak Narto. Mendekati garis finish galang masih berada
di urutan ketiga, dia terus mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Dan akhirnya dia
berhasil finish di urutan pertama.
“Hebat kau
lang, aku gak nyangka kau bisa menjadi juara pertama” ujar Sulhan. “Iya dong,
Galang gitu loch, ini juga berkat semangat kalian” jelas Galang. Setelah
menerima hadiah berupa uang dan piala. Galang,Wiwin, dan Sulhan pergi ke tukang
las. Mereka memesan sebuah tiang bendera berwarna putih. Setelah jadi, mereka
meminta ayah Wiwin memasangkannya. Di lapangan sudah berkumpul anak-anak lain.
Setelah selesai memasang, dengan suara lantang Galang memimpin penghormatan
kepada sang merah putih. “Kepada, bendera kebangsaan sang merah putih, Hormat
grak”. Sementara Wiwin dan Sulhan mengibarkannya. Serentak semua orang di
lapangan menghormat dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Indonesia
tanah airku
Tanah tumpah
darahku
Disanalah
aku berdiri
Dari pandu
ibuku
Indonesia
kebangsaanku
Bangsa dan
tanah airku
Marilah kita
berseru
Indonesia
bersatu
Hiduplah
tanahku
Hiduplah
negeriku
Bangsaku
rakyatku
Semuanya
Bangunlah
jiwanya
Bangunlah
badannya
Untuk
indonesia raya
Indonesia
raya
Merdeka-merdeka
Tanahku
negeriku
Yang ku
cinta
Indonesia
raya
Merdeka-merdeka
Hiduplah
indonesia raya
Indonesia
raya
Merdeka-merdeka
Tanahku
negeriku
Yang ku
cinta
Indonesia
raya
Merdeka-merdeka
Hiduplah
indonesia raya
Setelah
selesai mereka memandang sang merah putih yang berkibar dengan gagahnya. “Tegak
grak” terdengar lagi suara lantang dari Galang. Akhirnya pengibaran bendera pun
selesai. “Pak Narto, Galang dan teman-teman sudah berhasil mengganti tiang
benderanya, atas kerja keras kami. Terima kasih ya pak atas semua nasihat dan
pesan bapak. Semoga bapak bisa tenang disana” batin galang sambil meneteskan
air matanya.
CERPEN: KETIKA CINTA BAWA TASBIH
Seorang actor kawakan dari sebuah cerpen yang berjudul “ Ketika cinta bawa tasbih”, karangan Muna Fuadan. Dia sangat terkenal dari anak- anak lain. Minimal saat kamu menyebut nama Tedjo dirumahnya, pasti seisi rumah mengenalnya. Seorang anak ABG ( bukan “Anak Bakul Gorengan” lho.). Yang nggak terlalu ganteng dan gak terlalu jelek. Potongan rambutnya yang khas membuatnya makin aneh. Rambut depanya yang gondrong, bagian pinggirnya dicukur mepet dan rambut belakang yang nggak pendek membuatnya makin beken. Setidaknya, teman-temanya sering bilang kalo dia mirip om Charly st12. “Djo kalo dari jauh, loe mirip om charly st12 lho. Tapi kalo dari deket koq kaya OMPRENGAN”. Begitulah lagu wajib yang sering didengarnya. Tapi tedjo tak pernah marah diejek kaya gitu.
Tedjo bersama teman lama dan teman barunya membentuk sebuah gank yang amat rajin dan aktif. Rajin buat guru jengkel dan aktif buat onar di kelas. Dengan beranggota kurang lebih 3 anak mereka namai gank mereka “Syambel ABT” dengan nama anggota:
1. Ayiiiiip : Ketua 1 a
2. Badrun : Ketua 2 a
3. Tedjo : Ketua 3 a
Mereka menyebut diri mereka ketua karena memang mereka gak punya bawahan ( bukan berarti mereka tidak memakai celana lo ).
Malam telah larut,bulan tertutup awan hitam, bintang pun enggan menampakkan sinarnya. Hanya auman burung hantu yang menemani telinga manusia. Mungkin karena syambel ABT akan melakukan konferensi tingkat RT.
Hari ini seperti biasa, tedjo berangkat sekolah, setelah mandi, tak lupa gosok gigi habis itu menolong ibu membrsihkan tempat tidur, tedjo berpamitan pada orang tuanya. Dia melaju keluar dari rumah, langkah demi langkah, tiba-tiba dia berteriak.
“ Baaannnnggggg…………”
“ Ada apa de?”
“ Ojek ke skolahan berapa?”
“ 1000 cukup”.
Setelah berpikir lama, Tedjo langsung menunggangi tukang ojeg tersebut. Ma’af maksud saya motornya tukang ojeg.
Sesampainya di gerbang sekolah Tedjo sudah di sambut oleh satpam dan guru BKnya (bukan karena tamu kehormatan, tapi tedjo terlambat sekolah). Situasi seperti ini sering di alami oleh Tedjo. Setelah push up 25 kali, membersihkan halaman dan menghadap guru BK, Tedjo langsung melesat keruang kelasnya. Tanpa pikir pendek, Tedjo mengetuk pintu dan memberi salam. Tedjo langsung menyergap bangkunya yang masih kosong. Ternyata jam itu adalah jam pelajaran tata busana. Pelajaran yang paling anti buat tedjo. Karena bagi Tedjo guru tata busananya itu guru yang paling mengerikan (lebih mengerikan dari syaiton manapun).
“Tedjoooo . . . . . .” teriak seorang tua yang tidak asing bagi Tedjo memanggil namanya. Ternyata dia adalah bu sukerma (biasa dipanggil Bu Suk).
“Lagi-lagi kamu terlambat”.
“Ma’af bu, tadi tukang ojegnya bocor, maksud saya ban motornya, jadi harus ditambal dulu”.
“ Alasan aja, sudah berapa kali kamu masuk tepat waktu?”
“Belum pernah bu”.
“ kamu ini, silahkan tutup pintu dari luar dan buka setelah bel ganti jam berbunyi”.
1. Ayiiiiip : Ketua 1 a
2. Badrun : Ketua 2 a
3. Tedjo : Ketua 3 a
Mereka menyebut diri mereka ketua karena memang mereka gak punya bawahan ( bukan berarti mereka tidak memakai celana lo ).
Malam telah larut,bulan tertutup awan hitam, bintang pun enggan menampakkan sinarnya. Hanya auman burung hantu yang menemani telinga manusia. Mungkin karena syambel ABT akan melakukan konferensi tingkat RT.
Hari ini seperti biasa, tedjo berangkat sekolah, setelah mandi, tak lupa gosok gigi habis itu menolong ibu membrsihkan tempat tidur, tedjo berpamitan pada orang tuanya. Dia melaju keluar dari rumah, langkah demi langkah, tiba-tiba dia berteriak.
“ Baaannnnggggg…………”
“ Ada apa de?”
“ Ojek ke skolahan berapa?”
“ 1000 cukup”.
Setelah berpikir lama, Tedjo langsung menunggangi tukang ojeg tersebut. Ma’af maksud saya motornya tukang ojeg.
Sesampainya di gerbang sekolah Tedjo sudah di sambut oleh satpam dan guru BKnya (bukan karena tamu kehormatan, tapi tedjo terlambat sekolah). Situasi seperti ini sering di alami oleh Tedjo. Setelah push up 25 kali, membersihkan halaman dan menghadap guru BK, Tedjo langsung melesat keruang kelasnya. Tanpa pikir pendek, Tedjo mengetuk pintu dan memberi salam. Tedjo langsung menyergap bangkunya yang masih kosong. Ternyata jam itu adalah jam pelajaran tata busana. Pelajaran yang paling anti buat tedjo. Karena bagi Tedjo guru tata busananya itu guru yang paling mengerikan (lebih mengerikan dari syaiton manapun).
“Tedjoooo . . . . . .” teriak seorang tua yang tidak asing bagi Tedjo memanggil namanya. Ternyata dia adalah bu sukerma (biasa dipanggil Bu Suk).
“Lagi-lagi kamu terlambat”.
“Ma’af bu, tadi tukang ojegnya bocor, maksud saya ban motornya, jadi harus ditambal dulu”.
“ Alasan aja, sudah berapa kali kamu masuk tepat waktu?”
“Belum pernah bu”.
“ kamu ini, silahkan tutup pintu dari luar dan buka setelah bel ganti jam berbunyi”.
Tak lama kemudian datanglah seorang cw yang cantik jelita. Dia adalah bawon teman sekelas tedjo.
“Pagi djo… ge pain?”
“ni gi ngerjain tugas Bu Suk”
“Emang tugas apa?”
“Jaga pintu.”
“kamu bisa aja”.
“Pagi djo… ge pain?”
“ni gi ngerjain tugas Bu Suk”
“Emang tugas apa?”
“Jaga pintu.”
“kamu bisa aja”.
Bawon pun ,masuk dan tak lama kemudian dia keluar lagi.
“kenapa keluar? Disuruh jaga pintu juga ya?” Tanya Tedjo.
“ Iya nich. Galak juga ya”.
“Lagi sakit gigi kali”. Gurau Tedjo.
“sebenernya aku agak kecewa dikeluarin ma Bu Suker. Tapi kalau sama kamu, Aku jadi seneng”
“apa? Kamu naksir aku?” Tanya Tedjo.
“siapa bilang?”
“Tadi kamu bilang kamu suka ma aku”.
“Bercanda kamu”.
“Gak bercanda juga gak papa koq”.
Sebenarnya bawon adalah CW yang disukai tedjo sejak bertemu denganya di kelas IX-A ini. Dari awal, Tedjo mengharap kalau suatu hari bawon juga bias cinta ma Tedjo. Walaupun tedjo suka ma bawon tapi tedjo nggak berani mengungkapin perasaannya kebawon.
Setelah jam pelajaran usai mereka masuk kelas bersama. Disambut oleh sorakan penonton sekelas, Tedjo dan Bawon bagaikan Radja dan Permaisurinya. Tedjo yang aneh pun berkata “ Kalo cemburu ngomong satu-satu…, single?double?triple?fourple?”
Beberapa detik,menit, dan jam berlalu. Akhirnya Ringtone kebangsaan Sambel ABT berbunyi. Teeet……… tet…….(bel pulang sekolah). Seperti biasa tedjo pulang sekolah jalan kaki sama teman-temannya.
Setelah sampai dirumah Tedjo kaget karena sudah ada tamu yang bertengger di rumahnya. Dia terasa tidak asing bagi Tedjo. Ternyata dia adalah teman lawas tedjo yang bernama Bedjo.
“Assalamu,alaikum” salam tedjo.
“Wa’alaikumussalam” jawab Bedjo.
“Tedjo ya?” Tanya bedjo
“Iya memang anda siapa”
“kenapa keluar? Disuruh jaga pintu juga ya?” Tanya Tedjo.
“ Iya nich. Galak juga ya”.
“Lagi sakit gigi kali”. Gurau Tedjo.
“sebenernya aku agak kecewa dikeluarin ma Bu Suker. Tapi kalau sama kamu, Aku jadi seneng”
“apa? Kamu naksir aku?” Tanya Tedjo.
“siapa bilang?”
“Tadi kamu bilang kamu suka ma aku”.
“Bercanda kamu”.
“Gak bercanda juga gak papa koq”.
Sebenarnya bawon adalah CW yang disukai tedjo sejak bertemu denganya di kelas IX-A ini. Dari awal, Tedjo mengharap kalau suatu hari bawon juga bias cinta ma Tedjo. Walaupun tedjo suka ma bawon tapi tedjo nggak berani mengungkapin perasaannya kebawon.
Setelah jam pelajaran usai mereka masuk kelas bersama. Disambut oleh sorakan penonton sekelas, Tedjo dan Bawon bagaikan Radja dan Permaisurinya. Tedjo yang aneh pun berkata “ Kalo cemburu ngomong satu-satu…, single?double?triple?fourple?”
Beberapa detik,menit, dan jam berlalu. Akhirnya Ringtone kebangsaan Sambel ABT berbunyi. Teeet……… tet…….(bel pulang sekolah). Seperti biasa tedjo pulang sekolah jalan kaki sama teman-temannya.
Setelah sampai dirumah Tedjo kaget karena sudah ada tamu yang bertengger di rumahnya. Dia terasa tidak asing bagi Tedjo. Ternyata dia adalah teman lawas tedjo yang bernama Bedjo.
“Assalamu,alaikum” salam tedjo.
“Wa’alaikumussalam” jawab Bedjo.
“Tedjo ya?” Tanya bedjo
“Iya memang anda siapa”
Tedjo kaget karena orang yang tidak dia kenal mengenal namanya.
“Pasti kau lupa, ini aku, Bedjo sohib lamamu”.
“Ow Bedjo… ya… ya… ya… Bedjo siapa ya?”
“masa kau lupa sama temen lawasmu? “D’Riyel” ingat?”
“ya aku ingat”
“Pasti kau lupa, ini aku, Bedjo sohib lamamu”.
“Ow Bedjo… ya… ya… ya… Bedjo siapa ya?”
“masa kau lupa sama temen lawasmu? “D’Riyel” ingat?”
“ya aku ingat”
Setelah mengobrol agak lama. Tiba-tiba obrolan menyeleweng masalah perempuan. Akhirnya Tedjo menceritakan bahwa dirinya sedang menyukai seseorang. Bedjo yang pengalamannya lebih ketimbang Tedjo memberi saran padanya.
“Yang penting kau harus rajin ber do’a pada ALLAh jo. Jangan lupa katakan isi hatimu pada orang yang kau sukai. Aku juga pernah ngalamin yang kaya kamu alamin sekarang ini”.
Sebelum pulang, Bedjo memberikan tasbih buat Tedjo buat kenang-kenangan. Hari telah sore, tiba saatnya masuk waktu maghrib,Tedjo gak biasanya, dia langsung mengambil air wudlu dan langsung melesat menuju musholla dekat rumahnya. Setelah selesai sholat dan berdo’a, Tedjo pulang kerumahnya.
Hari demi hari silih berganti. Tedjo kini telah berubah menjadi seorang remaja yang alim dan selalu membawa tasbih pemberian Bedjo,teman lawasnya.
Akhirnya tibalah waktu ujian nasional. Kebetulan tedjo satu ruangan dengan bawon, bahkan duduk di depannya. Sebenarnya bawon juga sudah mulai suka sama tedjo. Tapi gak berani ngungkapin perasaannya ke Tedjo.
Setelah ujian nasional berakhir, Tedj berniat mengatakaan perasaannya ke bawon,tapi dia belum punya keberanian. Tiba-tiba dia teringat ucapan sohib lamanya.
“Memang sakit kalau kita mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Tapi alangkah lebih sakit lagi jika kita mencintai seseorang tetapi kita tidak punya keberanian untuk mengatakan perasaan kita”.
Akhirnya tedjo memberanikan diri untuk mengatakan perasaannya ke Bawon. Setelah acara perpisahan usai. Ia menemui bawon, ia mengatakan bahwa dia suka sama Bawon.
“won, ku mau jujur sama kamu, sebenernya ini sangat aneh terdengar, tapi ini harus ku katakan sama kamu. Maaf bila ku nyakitin hati kamu tapi sebenernya aku suka banget ma kamu. Pa kamu juga suka sama aku? Kamu gak perlu jawab sekarang kok”.
“Sebenernya kujuga suka sama kmu djo, tapi aku malu mau bicara ma kamu”
“Yang penting kau harus rajin ber do’a pada ALLAh jo. Jangan lupa katakan isi hatimu pada orang yang kau sukai. Aku juga pernah ngalamin yang kaya kamu alamin sekarang ini”.
Sebelum pulang, Bedjo memberikan tasbih buat Tedjo buat kenang-kenangan. Hari telah sore, tiba saatnya masuk waktu maghrib,Tedjo gak biasanya, dia langsung mengambil air wudlu dan langsung melesat menuju musholla dekat rumahnya. Setelah selesai sholat dan berdo’a, Tedjo pulang kerumahnya.
Hari demi hari silih berganti. Tedjo kini telah berubah menjadi seorang remaja yang alim dan selalu membawa tasbih pemberian Bedjo,teman lawasnya.
Akhirnya tibalah waktu ujian nasional. Kebetulan tedjo satu ruangan dengan bawon, bahkan duduk di depannya. Sebenarnya bawon juga sudah mulai suka sama tedjo. Tapi gak berani ngungkapin perasaannya ke Tedjo.
Setelah ujian nasional berakhir, Tedj berniat mengatakaan perasaannya ke bawon,tapi dia belum punya keberanian. Tiba-tiba dia teringat ucapan sohib lamanya.
“Memang sakit kalau kita mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Tapi alangkah lebih sakit lagi jika kita mencintai seseorang tetapi kita tidak punya keberanian untuk mengatakan perasaan kita”.
Akhirnya tedjo memberanikan diri untuk mengatakan perasaannya ke Bawon. Setelah acara perpisahan usai. Ia menemui bawon, ia mengatakan bahwa dia suka sama Bawon.
“won, ku mau jujur sama kamu, sebenernya ini sangat aneh terdengar, tapi ini harus ku katakan sama kamu. Maaf bila ku nyakitin hati kamu tapi sebenernya aku suka banget ma kamu. Pa kamu juga suka sama aku? Kamu gak perlu jawab sekarang kok”.
“Sebenernya kujuga suka sama kmu djo, tapi aku malu mau bicara ma kamu”
Tanpa pikir pendek Tedjo mengumumkan berita tersebut kesemua teman-temanya. Teman-temannya pun kaget mendengar berita tersebut. Karena mana mungkin seorang Tedjo bisa mendapatkan seorang Bawon. Idola disekolahnya.
Beberapa waktu setelah mereka jadian, Bawon mendengar berita kalau Tedjo akan melanjutkan sekolah di luar desa. Artinya mereka bakal berpisah. Bawonpun bersedih. Dia menemui Tedjo dan menangis di depannya. Tedjo sebenarnya gak mau nglanjutin sekolah di luar desa. Karena itu berarti dia bakal berpisah dengan kekasihnya. Tapi tedjo tidak bisa menentang perintah orang tuanya.
Beberapa waktu setelah mereka jadian, Bawon mendengar berita kalau Tedjo akan melanjutkan sekolah di luar desa. Artinya mereka bakal berpisah. Bawonpun bersedih. Dia menemui Tedjo dan menangis di depannya. Tedjo sebenarnya gak mau nglanjutin sekolah di luar desa. Karena itu berarti dia bakal berpisah dengan kekasihnya. Tapi tedjo tidak bisa menentang perintah orang tuanya.
Dia pun mengucapkan kata perpisahan dengan bawon dan menyanyikan sebuah lagu untuk bawon.
Tibalah waktunya dipenghujung rinduku
Perpisahan adalah kenyataan
Katakan padaku
Walau dengan air mata
Yang jatuh membasahi bumi
Harus disinilah kita berpisah lambaikan tanganmu
Pejamkan matamu dipenghabisan seluruh hidupmu
Harus sampai disini.. . . . . . .Dia berjalan sambil menangis. Tedjo berjanji pada bawon akan selalu menghubunginya. Begitu juga bawon, dia berjanji akan selalu menunggunya sampai Tedjo kembali.
Tibalah waktunya dipenghujung rinduku
Perpisahan adalah kenyataan
Katakan padaku
Walau dengan air mata
Yang jatuh membasahi bumi
Harus disinilah kita berpisah lambaikan tanganmu
Pejamkan matamu dipenghabisan seluruh hidupmu
Harus sampai disini.. . . . . . .Dia berjalan sambil menangis. Tedjo berjanji pada bawon akan selalu menghubunginya. Begitu juga bawon, dia berjanji akan selalu menunggunya sampai Tedjo kembali.
--TAMAT--
Sabtu, 04 Oktober 2014
SAJAK: -Sajak Menulis Perkawanan-
Facebook Twitter
Matahari nyiur agak kebarat
Kau hampir saja pergi dari sana
Dari perkawanan
Setiap larik detik membisik
Dimana engkau oh.. Ciuu
Dimana engkau oh.. Vodka
Dimana engkau oh.. Gin
Dimana engkau oh.. Vermouth
Dimana engkau..
Wahai: Jack daniel, Wine, Brandy, Wiski, Jager meister, Sampagne, Sake, Rum, Bourbon.
Atau kuambil sabu, kokain, pil koplo, ganja, Morfin, Heroin, Putau.
Atau mungkin kurujak kecubung yang kupetik dari pekarangan rumahku?
Ya.. Ya..
Aku mabuk..
Disana kutemukan kesetiaan..
Ku kira..
Lalu ku sadar dan mimpi buruk..
Dan aku tahu,,
Setia hanya ada di alam nyata..
SETIA
Musuhku setia menjahatiku
Temanku setia menemaniku
Sahabatku setia menyayangiku
Kekasihku setia mengasihiku
Guru-guruku setia mengajariku
Orang tuaku setia menyintaiku..
Dan kutemukan setia bersama sahabatku, bersama kawanku..
Bukan bersama mabuk dan tak sadar diri..
BUKAN..
Aku limbung, nyiur, penthoyongan..
Bukan kerna nginum atau nyabu bahkan ngrujak kecubung..
BUKAN sahabat..
Aku mencari engkau..
Dimana kini engkau..
Padahal engkau ada di pelupuk mataku..
Tapi dimana engkau??
Sahabat terkasihku..
Engkau tak kukenali lagi..
Apa aku sedang halusinasi kerna ngonsumsi halusinogen?
Apa aku sedang mabuk kerna nginum ciu?
Apa aku gila kerna ngrujak cubung?
Tidak..
Engkau yang gila dan berubah..
Tapi..
Sahabatku..
Ternyata akupun berubah..
Dan ternyata kita masih sama..
Masih saling mengasihi dalam kasih persahabatan..
Masih saling menyintai dalam cinta persahabatan..
Masih saling menyayangi dalam sayang persahabatan..
Engkau risau aku galau
Engkau galau aku risau
Aku berfikir dan berharap
Aku sajalah yang kentir
Sedang sahabat dan kawanku di seluruh negeriku tidak merasakan gethir..
Tapi, disetiap lembar dari lembar koran,
Disetiap tayangan berita yang disiarkan
Aku membaca, melihat dan mendengar:
Aku menyaksikan,
Seorang pria mencabuli 2 anak tirinya
Aku menyaksikan,
Ratusan anak kecil dicabuli seorang pria gila di pinggiran kali di sukabumi..
Aku menyaksikan,
siswa TK,
Di sodomi tukang kebun,
Aku menyaksikan,
Banyak rakyat miskin yang bisa makan hanya dalam mimpinya saja,
Aku menyaksikan,
Para pasien di tipu ustad yang mengaku tabib,
Yaa Tuhan..
Mengapa sahabatku begitu tega seperti demikian??
Pantaskah demikian??
Haii sahabat-sahabatku
Seluruh Indonesia,,
Purwokerto, Mei 2014
Matahari nyiur agak kebarat
Kau hampir saja pergi dari sana
Dari perkawanan
Setiap larik detik membisik
Dimana engkau oh.. Ciuu
Dimana engkau oh.. Vodka
Dimana engkau oh.. Gin
Dimana engkau oh.. Vermouth
Dimana engkau..
Wahai: Jack daniel, Wine, Brandy, Wiski, Jager meister, Sampagne, Sake, Rum, Bourbon.
Atau kuambil sabu, kokain, pil koplo, ganja, Morfin, Heroin, Putau.
Atau mungkin kurujak kecubung yang kupetik dari pekarangan rumahku?
Ya.. Ya..
Aku mabuk..
Disana kutemukan kesetiaan..
Ku kira..
Lalu ku sadar dan mimpi buruk..
Dan aku tahu,,
Setia hanya ada di alam nyata..
SETIA
Musuhku setia menjahatiku
Temanku setia menemaniku
Sahabatku setia menyayangiku
Kekasihku setia mengasihiku
Guru-guruku setia mengajariku
Orang tuaku setia menyintaiku..
Dan kutemukan setia bersama sahabatku, bersama kawanku..
Bukan bersama mabuk dan tak sadar diri..
BUKAN..
Aku limbung, nyiur, penthoyongan..
Bukan kerna nginum atau nyabu bahkan ngrujak kecubung..
BUKAN sahabat..
Aku mencari engkau..
Dimana kini engkau..
Padahal engkau ada di pelupuk mataku..
Tapi dimana engkau??
Sahabat terkasihku..
Engkau tak kukenali lagi..
Apa aku sedang halusinasi kerna ngonsumsi halusinogen?
Apa aku sedang mabuk kerna nginum ciu?
Apa aku gila kerna ngrujak cubung?
Tidak..
Engkau yang gila dan berubah..
Tapi..
Sahabatku..
Ternyata akupun berubah..
Dan ternyata kita masih sama..
Masih saling mengasihi dalam kasih persahabatan..
Masih saling menyintai dalam cinta persahabatan..
Masih saling menyayangi dalam sayang persahabatan..
Engkau risau aku galau
Engkau galau aku risau
Aku berfikir dan berharap
Aku sajalah yang kentir
Sedang sahabat dan kawanku di seluruh negeriku tidak merasakan gethir..
Tapi, disetiap lembar dari lembar koran,
Disetiap tayangan berita yang disiarkan
Aku membaca, melihat dan mendengar:
Aku menyaksikan,
Seorang pria mencabuli 2 anak tirinya
Aku menyaksikan,
Ratusan anak kecil dicabuli seorang pria gila di pinggiran kali di sukabumi..
Aku menyaksikan,
siswa TK,
Di sodomi tukang kebun,
Aku menyaksikan,
Banyak rakyat miskin yang bisa makan hanya dalam mimpinya saja,
Aku menyaksikan,
Para pasien di tipu ustad yang mengaku tabib,
Yaa Tuhan..
Mengapa sahabatku begitu tega seperti demikian??
Pantaskah demikian??
Haii sahabat-sahabatku
Seluruh Indonesia,,
Purwokerto, Mei 2014
Langganan:
Postingan (Atom)