Matahari
mulai menampakkan sinarnya yang kokoh, daun-daun melambai tertiup angin pagi
yang sejuk, gemicir air menambah kealamian persawahan di Desa Tlagasana. Desa
yang tergolong pelosok dan terbelakang.
Tiga anak
manusia memulai hari mereka dengan memandang kawasan hijau di persawahan yang
masih asri. Mereka adalah Galang, Sulhan dan Wiwin. Tiga sahabat ini tinggal di
desa Tlagasana. Seperti biasa, mereka mengawali hari mereka dengan mandi,
sarapan dan berangkat sekolah. Tapi sebelum mereka berangkat, mereka berkumpul
dahulu di lapangan kecil tempat mereka biasa bermain. Disana mereka menghormat dulu
kepada sang merah putih yang berkibar di tengah lapangan. “Hormat grak, tegak
grak”, terdengar suara lantang dari Galang memimpin penghormatan mereka.
Kemudian
mereka melanjutkan langkah mereka ke sekolah. Mereka bersekolah di SMP Negeri 1
Tlagasana. Walaupun gedungnya kecil,banyak yang rusak tapi mereka tetap
bersemangat untuk mencari ilmu. Sepulang sekolah, setelah mengganti pakaian,
mereka bergegas ke lapangan tempat mereka bermain. Waktunya pak Narto
menceritakan cerita perjuangannya melawan penjajah. Karena beliau adalah salah
satu saksi kekejaman penjajah menindas Indonesia. Dialah satu-satunya veteran
di Desa Tlagasana. Beliau jugalah yang selalu mengibarkan bendera di lapangan,
karena rumah beliau memang dekat dengan lapangan. Anak-anak banyak yang suka
mendengar cerita dari beliau. Terlebih Galang, Sulhan dan Wiwin. Mereka selalu
antusias saat pak Narto bercerita.
Suatu
ketika, saat mereka bermain di lapangan, Wiwin memerhatikan tiang bendera yang
sudah karatan dan hampir roboh. “Kok tiang benderanya sudah bengkok, karatan,
kaya mau ambruk saja, kalau tiangnya sampai roboh sang merah putih tidak bisa
berkibar lagi dong” batin Wiwin. Dia punya niat untuk mengganti tiangnya dengan
yang baru. Tapi dia tidak punya cukup uang untuk membeli tiang bendera. Dia
mengatakan niatnya itu kepada dua sahabatnya. “Temen-temen, tiang bendera di
lapangan kan sudah rusak dan hampir roboh. Gimana kalau kita ganti dengan yang
baru?” ujar Wiwin. “Boleh juga tuh, tapi mau beli pake apa?kita kan gak punya
duit” tambah Sulhan. “gimana kalau ambil tabungan kita? Kalian pada punya
tabungan kan?” seru Galang. “Kalau aku sih punya, tapi Cuma sedikit. Gak tau
kalau si sulhan. Kamu punya tabungan gak?” kata Wiwin. “Punya donk!” kata
sulhan. “ya sudah kalau begitu, nanti sore kita kumpul di rumahku sambil bawa
uang ya!” kata galang. “Oke” ujar Wiwin dan Sulhan bersamaan.
Mereka
berniat mengganti tiangnya karena mereka sadar, kalau tiang itu roboh dimana
lagi bendera merah putih bisa berkibar. Mereka juga tidak bisa hormat lagi dengan
sang merah putih. Mereka memang mempunyai rasa cinta tanah air yang tinggi.
Sore harinya
mereka berkumpul di rumah Galang sambil membawa tabungan mereka. “Kalian sudah
bawa uangnya?” tanya Galang. “Sudah dong tapi Cuma sedikit” ujar Sulhan. “Iya
aku juga sudah bawa” tambah Wiwin. “ayo dikumpulin!” Kata Galang. Setelah uang
mereka dikumpulkan dan dihitung ternyata masih kurang. “Aduh masih kurang nih,
gimana ya buat nutupi kekurangannya?” geram Galang.
Mereka masih
bingung memikirkan kekurangannya, hingga disuatu sore, saat mereka jalan-jalan.
Tidak sengaja Sulhan membaca brosur bungkus gorengannya saat dia selesai makan
gorengan. “Lihat nih! Ada berita menarik. Akan diadakan lomba balap sepeda
dan…” ujar Sulhan. “Dan apa?” tanya Wiwin penasaran. “Hadiahnya uang dan piala”
tambah Sulhan. “Terus apa hubunganya sama kita?” tanya Galang. “kalau kita ikut
dan menang, kita bisa gunakan uangnya untuk membeli tiang bendera” jelas
Sulhan. “iya juga ya, kadang-kadang kau pinter juga” ejek Wiwin. “bukan
kadang-kadang lagi tapi sering” Sulhan tidak mau kalah. “sering bego kan?”
tambah Galang. Semuapun tertawa bersama.
Mereka
memutuskan Galang yang akan ikut lomba balap sepeda tersebut. “Lang, kamu siap
kan buat ikut lomba ini?” tanya Wiwin. “Tentu saja” jawab Galang. “Aku kan
sudah biasa memanjat gunung dengan sepedaku”. Sementara itu pak Narto sang
veteran jatuh sakit. Dia menderita demam yang tinggi. Galang,Wiwin dan Sulhan
tidak tahu karena sibuk menghias sepeda Galang untuk persiapan balap sepeda.
Akhirnya
tibalah hari pertama babak penyisihan balap sepeda. Galang menjadi peserta
nomor 23. dia berhadapan dengan banyak anak yang lebih besar. Tapi dia tak
menyerah. Karena dia selalu ingat kata pak Narto, bahwa perjuangan keras bisa
membuat hasil yang bagus. Dia meniru kegigihan pak Narto melawan penjajah.
Akhirnya dia lolos ke putaran final.
Setelah
mereka pulang mereka mendengar bahwa pak Narto sedang sakit. Mereka bergegas ke
rumah pak Narto. Saat mereka datang, pak Narto sedang terbaring lemah di tempat
tidurnya. Beliau pun berpesan kepada tiga bocah tersebut. “Ingat anak-anak!
Jangan pernah menyerah sebelum berjuang, jangan sia-siakan pengorbanan orang
lain untuk kalian. Kalian pasti akan mengerti bagaimana rasanya berkorban untuk
orang lain”. Setelah berpesan kepada anak-anak pak Narto tersenyum dan hormat
sambil berbaring. Dia memejamkan matanya dan menghela nafas dalm-dalam dan
akhirnya pak narto meninggal dalam keadaan hormat. Anak-anak menangis
histeris.”Pak Narto jangan tinggalin kami! Siapa lagi yang akan mengibarkan
sang merah putih kalau bapak pergi?” teriak Galang sambil menggoncangkan badan
pak Narto yang terpujur kaku.
Sepeninggal
pak Narto Galang menjadi anak yang pendiam dan jarang keluar rumah. Mungkin
dari anak-anak lain Galang lah yang merasa paling kehilangan. Karena dia
menganggap pak Narto bapaknya sendiri. Karena bapak Galang sudah meninggal
sejak dia kecil, dan pak Narto lah yang sering memberi nasihat kepadanya.
Setelah itu Galang berniat untuk mengundurkan diri dari lomba balap sepeda.
Suatu pagi
di rumah Galang. Dua sahabatnya datang. “Lang kamu gak siap-siap buat besok?”
tanya Wiwin. “Siap-siap buat apa?” ujar Galang. “Ya buat lomba balap sepeda
besok. Kamu gak latihan?” tambah Sulhan. “Oh iya aku belum bilang sama kalian
ya. Aku mau mengudurkan diri saja. Aku sudah gak minat lagi” Jelas Galang.
“Loh, kenapa jadi kaya gini? Bukannya kamu yang paling bersemangat untuk
memenangkan hadiah ini untuk membeli tiang bendera baru?” tukas Wiwin. “Memang,
tapi sekarang sudah berubah, orang yang membuatku semangat sekarang sudah tidak
ada” ujar Galang. ”Kami kecewa sama kamu lang, apa kau tidak ingat pesan pak
Narto sebelum beliau meninggal? Pasti beliau juga kecewa melihat sikapmu yang
mudah nyerah gini. Apa kau tidak malu? Kami benar-benar kecewa sama kamu lang!”
bentak Wiwin. Sulhan dan Wiwin langsung pergi dari rumah Galang. Setelah itu,
Galang terus memikirkan perkataan Wiwin.
Keesokan
harinya, saat putaran final hampir dimulai, Galang tidak juga hadir, sampai
perlombaan dimulai Galang belum juga datang. Wiwin dan Sulhan mulai harap-harap
cemas, tapi dari kejauhan Galang muncul dengan sepedanya. Setelah bersiap di
garis start, galang memandang wajah sahabat-sahabatnya. “Jangan menyerah
Galang! Tetap semangat!” teriak Wiwin. Galang mengangguk. Dan perlombaan pun di
mulai. Awalnya Galang berada di urutan akhir, tapi dia mengayuh sepedanya
semakin cepat, keringatnya mengalir di wajahnya. Tiba-tiba, dari belakang ada
salah satu peserta yang mendorongnya hingga terjatuh. Galang bangun lagi dan
dia tidak menyerah. Dia selalu mengingat pesan dari teman-temanya dan juga
pesan dari seng veteran, pak Narto. Mendekati garis finish galang masih berada
di urutan ketiga, dia terus mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Dan akhirnya dia
berhasil finish di urutan pertama.
“Hebat kau
lang, aku gak nyangka kau bisa menjadi juara pertama” ujar Sulhan. “Iya dong,
Galang gitu loch, ini juga berkat semangat kalian” jelas Galang. Setelah
menerima hadiah berupa uang dan piala. Galang,Wiwin, dan Sulhan pergi ke tukang
las. Mereka memesan sebuah tiang bendera berwarna putih. Setelah jadi, mereka
meminta ayah Wiwin memasangkannya. Di lapangan sudah berkumpul anak-anak lain.
Setelah selesai memasang, dengan suara lantang Galang memimpin penghormatan
kepada sang merah putih. “Kepada, bendera kebangsaan sang merah putih, Hormat
grak”. Sementara Wiwin dan Sulhan mengibarkannya. Serentak semua orang di
lapangan menghormat dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Indonesia
tanah airku
Tanah tumpah
darahku
Disanalah
aku berdiri
Dari pandu
ibuku
Indonesia
kebangsaanku
Bangsa dan
tanah airku
Marilah kita
berseru
Indonesia
bersatu
Hiduplah
tanahku
Hiduplah
negeriku
Bangsaku
rakyatku
Semuanya
Bangunlah
jiwanya
Bangunlah
badannya
Untuk
indonesia raya
Indonesia
raya
Merdeka-merdeka
Tanahku
negeriku
Yang ku
cinta
Indonesia
raya
Merdeka-merdeka
Hiduplah
indonesia raya
Indonesia
raya
Merdeka-merdeka
Tanahku
negeriku
Yang ku
cinta
Indonesia
raya
Merdeka-merdeka
Hiduplah
indonesia raya
Setelah
selesai mereka memandang sang merah putih yang berkibar dengan gagahnya. “Tegak
grak” terdengar lagi suara lantang dari Galang. Akhirnya pengibaran bendera pun
selesai. “Pak Narto, Galang dan teman-teman sudah berhasil mengganti tiang
benderanya, atas kerja keras kami. Terima kasih ya pak atas semua nasihat dan
pesan bapak. Semoga bapak bisa tenang disana” batin galang sambil meneteskan
air matanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saran dan Kritik