Minggu, 05 Oktober 2014

CERPEN: TIANG BENDERA BARU

Pemalang, Agustus 2008
Facebook     Twitter

Matahari mulai menampakkan sinarnya yang kokoh, daun-daun melambai tertiup angin pagi yang sejuk, gemicir air menambah kealamian persawahan di Desa Tlagasana. Desa yang tergolong pelosok dan terbelakang.
Tiga anak manusia memulai hari mereka dengan memandang kawasan hijau di persawahan yang masih asri. Mereka adalah Galang, Sulhan dan Wiwin. Tiga sahabat ini tinggal di desa Tlagasana. Seperti biasa, mereka mengawali hari mereka dengan mandi, sarapan dan berangkat sekolah. Tapi sebelum mereka berangkat, mereka berkumpul dahulu di lapangan kecil tempat mereka biasa bermain. Disana mereka menghormat dulu kepada sang merah putih yang berkibar di tengah lapangan. “Hormat grak, tegak grak”, terdengar suara lantang dari Galang memimpin penghormatan mereka.
Kemudian mereka melanjutkan langkah mereka ke sekolah. Mereka bersekolah di SMP Negeri 1 Tlagasana. Walaupun gedungnya kecil,banyak yang rusak tapi mereka tetap bersemangat untuk mencari ilmu. Sepulang sekolah, setelah mengganti pakaian, mereka bergegas ke lapangan tempat mereka bermain. Waktunya pak Narto menceritakan cerita perjuangannya melawan penjajah. Karena beliau adalah salah satu saksi kekejaman penjajah menindas Indonesia. Dialah satu-satunya veteran di Desa Tlagasana. Beliau jugalah yang selalu mengibarkan bendera di lapangan, karena rumah beliau memang dekat dengan lapangan. Anak-anak banyak yang suka mendengar cerita dari beliau. Terlebih Galang, Sulhan dan Wiwin. Mereka selalu antusias saat pak Narto bercerita.
Suatu ketika, saat mereka bermain di lapangan, Wiwin memerhatikan tiang bendera yang sudah karatan dan hampir roboh. “Kok tiang benderanya sudah bengkok, karatan, kaya mau ambruk saja, kalau tiangnya sampai roboh sang merah putih tidak bisa berkibar lagi dong” batin Wiwin. Dia punya niat untuk mengganti tiangnya dengan yang baru. Tapi dia tidak punya cukup uang untuk membeli tiang bendera. Dia mengatakan niatnya itu kepada dua sahabatnya. “Temen-temen, tiang bendera di lapangan kan sudah rusak dan hampir roboh. Gimana kalau kita ganti dengan yang baru?” ujar Wiwin. “Boleh juga tuh, tapi mau beli pake apa?kita kan gak punya duit” tambah Sulhan. “gimana kalau ambil tabungan kita? Kalian pada punya tabungan kan?” seru Galang. “Kalau aku sih punya, tapi Cuma sedikit. Gak tau kalau si sulhan. Kamu punya tabungan gak?” kata Wiwin. “Punya donk!” kata sulhan. “ya sudah kalau begitu, nanti sore kita kumpul di rumahku sambil bawa uang ya!” kata galang. “Oke” ujar Wiwin dan Sulhan bersamaan.
Mereka berniat mengganti tiangnya karena mereka sadar, kalau tiang itu roboh dimana lagi bendera merah putih bisa berkibar. Mereka juga tidak bisa hormat lagi dengan sang merah putih. Mereka memang mempunyai rasa cinta tanah air yang tinggi.
Sore harinya mereka berkumpul di rumah Galang sambil membawa tabungan mereka. “Kalian sudah bawa uangnya?” tanya Galang. “Sudah dong tapi Cuma sedikit” ujar Sulhan. “Iya aku juga sudah bawa” tambah Wiwin. “ayo dikumpulin!” Kata Galang. Setelah uang mereka dikumpulkan dan dihitung ternyata masih kurang. “Aduh masih kurang nih, gimana ya buat nutupi kekurangannya?” geram Galang.
Mereka masih bingung memikirkan kekurangannya, hingga disuatu sore, saat mereka jalan-jalan. Tidak sengaja Sulhan membaca brosur bungkus gorengannya saat dia selesai makan gorengan. “Lihat nih! Ada berita menarik. Akan diadakan lomba balap sepeda dan…” ujar Sulhan. “Dan apa?” tanya Wiwin penasaran. “Hadiahnya uang dan piala” tambah Sulhan. “Terus apa hubunganya sama kita?” tanya Galang. “kalau kita ikut dan menang, kita bisa gunakan uangnya untuk membeli tiang bendera” jelas Sulhan. “iya juga ya, kadang-kadang kau pinter juga” ejek Wiwin. “bukan kadang-kadang lagi tapi sering” Sulhan tidak mau kalah. “sering bego kan?” tambah Galang. Semuapun tertawa bersama.
Mereka memutuskan Galang yang akan ikut lomba balap sepeda tersebut. “Lang, kamu siap kan buat ikut lomba ini?” tanya Wiwin. “Tentu saja” jawab Galang. “Aku kan sudah biasa memanjat gunung dengan sepedaku”. Sementara itu pak Narto sang veteran jatuh sakit. Dia menderita demam yang tinggi. Galang,Wiwin dan Sulhan tidak tahu karena sibuk menghias sepeda Galang untuk persiapan balap sepeda.
Akhirnya tibalah hari pertama babak penyisihan balap sepeda. Galang menjadi peserta nomor 23. dia berhadapan dengan banyak anak yang lebih besar. Tapi dia tak menyerah. Karena dia selalu ingat kata pak Narto, bahwa perjuangan keras bisa membuat hasil yang bagus. Dia meniru kegigihan pak Narto melawan penjajah. Akhirnya dia lolos ke putaran final.
Setelah mereka pulang mereka mendengar bahwa pak Narto sedang sakit. Mereka bergegas ke rumah pak Narto. Saat mereka datang, pak Narto sedang terbaring lemah di tempat tidurnya. Beliau pun berpesan kepada tiga bocah tersebut. “Ingat anak-anak! Jangan pernah menyerah sebelum berjuang, jangan sia-siakan pengorbanan orang lain untuk kalian. Kalian pasti akan mengerti bagaimana rasanya berkorban untuk orang lain”. Setelah berpesan kepada anak-anak pak Narto tersenyum dan hormat sambil berbaring. Dia memejamkan matanya dan menghela nafas dalm-dalam dan akhirnya pak narto meninggal dalam keadaan hormat. Anak-anak menangis histeris.”Pak Narto jangan tinggalin kami! Siapa lagi yang akan mengibarkan sang merah putih kalau bapak pergi?” teriak Galang sambil menggoncangkan badan pak Narto yang terpujur kaku.
Sepeninggal pak Narto Galang menjadi anak yang pendiam dan jarang keluar rumah. Mungkin dari anak-anak lain Galang lah yang merasa paling kehilangan. Karena dia menganggap pak Narto bapaknya sendiri. Karena bapak Galang sudah meninggal sejak dia kecil, dan pak Narto lah yang sering memberi nasihat kepadanya. Setelah itu Galang berniat untuk mengundurkan diri dari lomba balap sepeda.
Suatu pagi di rumah Galang. Dua sahabatnya datang. “Lang kamu gak siap-siap buat besok?” tanya Wiwin. “Siap-siap buat apa?” ujar Galang. “Ya buat lomba balap sepeda besok. Kamu gak latihan?” tambah Sulhan. “Oh iya aku belum bilang sama kalian ya. Aku mau mengudurkan diri saja. Aku sudah gak minat lagi” Jelas Galang. “Loh, kenapa jadi kaya gini? Bukannya kamu yang paling bersemangat untuk memenangkan hadiah ini untuk membeli tiang bendera baru?” tukas Wiwin. “Memang, tapi sekarang sudah berubah, orang yang membuatku semangat sekarang sudah tidak ada” ujar Galang. ”Kami kecewa sama kamu lang, apa kau tidak ingat pesan pak Narto sebelum beliau meninggal? Pasti beliau juga kecewa melihat sikapmu yang mudah nyerah gini. Apa kau tidak malu? Kami benar-benar kecewa sama kamu lang!” bentak Wiwin. Sulhan dan Wiwin langsung pergi dari rumah Galang. Setelah itu, Galang terus memikirkan perkataan Wiwin.
Keesokan harinya, saat putaran final hampir dimulai, Galang tidak juga hadir, sampai perlombaan dimulai Galang belum juga datang. Wiwin dan Sulhan mulai harap-harap cemas, tapi dari kejauhan Galang muncul dengan sepedanya. Setelah bersiap di garis start, galang memandang wajah sahabat-sahabatnya. “Jangan menyerah Galang! Tetap semangat!” teriak Wiwin. Galang mengangguk. Dan perlombaan pun di mulai. Awalnya Galang berada di urutan akhir, tapi dia mengayuh sepedanya semakin cepat, keringatnya mengalir di wajahnya. Tiba-tiba, dari belakang ada salah satu peserta yang mendorongnya hingga terjatuh. Galang bangun lagi dan dia tidak menyerah. Dia selalu mengingat pesan dari teman-temanya dan juga pesan dari seng veteran, pak Narto. Mendekati garis finish galang masih berada di urutan ketiga, dia terus mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Dan akhirnya dia berhasil finish di urutan pertama.
“Hebat kau lang, aku gak nyangka kau bisa menjadi juara pertama” ujar Sulhan. “Iya dong, Galang gitu loch, ini juga berkat semangat kalian” jelas Galang. Setelah menerima hadiah berupa uang dan piala. Galang,Wiwin, dan Sulhan pergi ke tukang las. Mereka memesan sebuah tiang bendera berwarna putih. Setelah jadi, mereka meminta ayah Wiwin memasangkannya. Di lapangan sudah berkumpul anak-anak lain. Setelah selesai memasang, dengan suara lantang Galang memimpin penghormatan kepada sang merah putih. “Kepada, bendera kebangsaan sang merah putih, Hormat grak”. Sementara Wiwin dan Sulhan mengibarkannya. Serentak semua orang di lapangan menghormat dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Dari pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negeriku
Bangsaku rakyatku
Semuanya

Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk indonesia raya

Indonesia raya
Merdeka-merdeka
Tanahku negeriku
Yang ku cinta

Indonesia raya
Merdeka-merdeka
Hiduplah indonesia raya

Indonesia raya
Merdeka-merdeka
Tanahku negeriku
Yang ku cinta

Indonesia raya
Merdeka-merdeka
Hiduplah indonesia raya

Setelah selesai mereka memandang sang merah putih yang berkibar dengan gagahnya. “Tegak grak” terdengar lagi suara lantang dari Galang. Akhirnya pengibaran bendera pun selesai. “Pak Narto, Galang dan teman-teman sudah berhasil mengganti tiang benderanya, atas kerja keras kami. Terima kasih ya pak atas semua nasihat dan pesan bapak. Semoga bapak bisa tenang disana” batin galang sambil meneteskan air matanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saran dan Kritik