kepada sahabat Ahmad Muna Fuadan
Kau berbeda tapi kau tetap / Kau tetap tapi kau juga berubah / Aku tak tahu kau berubah dari dan sejak mana / Dan aku juga tak mengerti jika kau tetap pada kesederhanaan // Tubuh yang kucal, postur yang mungkin sedikit tak layak dikata manusia / Memang tak mengapa kau kukatakan demikian / Dimataku seonggok dirimu bagai intan yang dibuang di antara pasir yang akan tetap selalu bersinar walau disekelilingmu buram dan gelap // Mungkin kau perlu di DOR! Agar pemikiran dan hatimu yang jernih itu dapat keluar / Dan juga kau harus dijemur, agar badanmu rela diterkam terik panas menanggung sedu orang yang bahkan membencimu // Itulah mata yang kupandangkan; seperti memandang padi. Ya padi. / Padi yang selalu bernyanyi, burung yang selalu bersiul, pohon yang selalu berdendang dan juga alam yang selalu berdzikir pada Tuhan // Kau bagai jalan lintas Sumatera : yang rela diinjak truk-truk / Walau harus merusak dirimu sendiri / Kau seperti matahari yang selalu memberikan harapan untuk melangkah menuju pagi / kau bagaikan rembulan yang selalu menciptakan keindahan dan keromantisan di kala keheningan malam // Namun kau bukan senja, yang hanya memberikan janji palsu dan menyegarkan mata sesaat kemudian kau pergi kembali // Manusia berpeluk Tuhan / Tuhan berpeluk manusia ; Ciptakan kerukunan-kehangatan / Niscaya kita akan sentosa
Palembang 23 September 2014
Muh. Budi Santoso
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saran dan Kritik